Kisah Pembantaian Sadis Badak di Afrika

Badak dibantai, bangkainya ditelantarkan. Hanya untuk diambil culanya.

News – Di saat Indonesia dan dunia bersuka cita menyambut kelahiran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) bernama Andatu–singkatan dari nama orang tuanya, Andalas dan Ratu, Sabtu 23 Juni 2012, kenyataan pahit dialami spesies ini di belahan dunia lain. 

Ini adegan nyata yang diambil dari Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan: lalat berterbangan di sekeliling onggokan raksasa bangkai badak yang membusuk. Mata hewan malang itu dicukil, culanya diamputasi. 

Gambaran mengerikan itu menjadi pembuka film dokumenter terbaru yang juga tersedia di YouTube. Judulnya Rhino Under Threat, meski berdurasi hanya 28 menit tapi diharapkan bisa membuka mata kita tentang horor perburuan badak. Film ini diputar perdana di konferensi lingkungan global, Rio+20 di Rio de Janeiro, Brazil. 

Afrika Selatan, rumah bagi sebagian besar badak yang ada muka bumi, tragisnya menjadi episentrum dari tragedi yang tiada akhir itu. 

Departemen Lingkungan Hidup Afsel mengungkapkan, hingga 15 Juni 2012, sudah 245 badak yang menjadi korban perburuan. Itu baru hitungan kurang dari enam bulan, dikhawatirkan akumulasi badak yang dibantai tahun ini bakal lebih besar dari sebelumnya, yakni 448 di tahun 2011. 

Perburuan gajah dan badak diyakini sebagai efek turunan dari meningkatnya permintaan di Asia, didorong oleh meningkatnya daya beli, makin banyaknya orang kaya dan konglomerat di Asia.

Cula badak sejak lama digunakan dalam pengobatan tradisional di China dan Vietnam. Film dokumenter tersebut bahkan mewawancarai seorang dokter rumah sakit terbesar di Hanoi yang memuji setinggi langit khasiat cula badak. 

Juga menurut dokumenter itu, cula badak menjadi alasan maling beroperasi di museum dan rumah para kolektor di 15 negara. Yang membuat nelangsa, Badak Jawa terakhir di Vietnam mati karena diburu. Hanya karena culanya. 

“Sangat menyayat hati,” kata Ted Reilly, kepala Big Game Parks Swaziland, seperti dimuat Sundayworld, 25 Juni 2012. Salah satu kerajaan kecil di selatan Afrika itu juga kehilangan badaknya tahun lalu. Yang pertama dalam dua dekade. 

“Saat itu induk badak sedang bersama anaknya yang masih bayi. Para pemburu menembak mati sang induk…bayi kecil sedih dan marah tak mengizinkan para pemburu mendekati jasad ibunya. Akhirnya tragis, pemburu itu juga menembaknya,” kata dia. 

Para pemburu sadis itu lalu memotong cula dan setengah wajah badak dewasa dengan gergaji mesin. Reily mengatakan, terkadang, badak dibius. Saat pengaruh obatnya hilang mereka terbangun sempoyongan, dengan cula teramputasi dan rasa sakit. “Bagaimana sebaiknya Anda berurusan dengan orang-orang jahat seperti itu?.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s